Skip to main content

QUARTER LIFE CRISIS ALA SAYA


Di tulisan saya sebelumnya, saya sudah menjelaskan apa itu Quarter Life Crisis serta sebab dan dampaknya (Lihat di sini). Adapun pada tulisan kali ini saya akan menjelaskan pengalaman pribadi saya tentang masa Quarter Life Crisis yang saya alami.

Mungkin, kamu akan terkejut dengan apa yang saya ekspektasikan di umur 23 tahun (umur asli saya sekarang) ini. Saya selalu mengekspektasikan hubungan yang harmonis dengan semua orang. Khususnya kepada yang lebih muda (terlebih adik kandung saya sendiri, Nurul dan Mulky). Dalam profesi saya sebagai guru, saya juga sering menitikberat kesuksesan saya menagajar di sekolah adalah pada bagaimana hubungan saya dengan siswa-siswi saya (di SMP AN-Nizam Medan). Dalam keseharian saya, tinggal di Masjid Baiturrahman UNIMED (sebagai seorang marbot), saya sangat sering berekspektasi tentang harmonisnya hubungan saya dengan rekan marbot saya, termasuk adik-adik tingkat saya disana. 

Semua lingkungan saya menghasilkan ekspektasi dengan luka yang berbeda-beda. Semua rasanya mustahil untuk berhasil, meski terkadang saya terlalu memaksakannya. Bahkan demi dekat dengan mereka, saya rela untuk tampil selayaknya anak kecil dengan mengemis perhatian mereka. Tampak seperti orang yang belum dewasa, menguji sudah dekatkah kami atau belum. Saya menelusuri hingga yang terdalam tentang bagaimana hubungan saya dengan mereka. 

Okelah, saya tidak ada masalah dengan senior atau abang atau kakak diatas saya. Tapi untuk yang masih lebih muda dari saya, saya merasa mereka tidak ada perhatian sama sekali. Bahkan tak jarang seperti memanfaatkan dan ingin mengelebuhi saya. Mirisnya, saya tidak peduli akan hal itu. 

Ekspektasi ini sungguh mengekang saya, membelenggu saya dan mengunci saya di jeruji besi yang tak tau jalan keluarnya dari mana. Saya bertanya-tanya, apakah saya belum dewasa? apakah ini baru saja muncul atau sudah lama terjadi? apakah saya tidak pandai bergaul dengan mereka? atau generasi kami yang berbeda sehingga beda persepsi diantara kami? 

Saya yakin ada penyebab dari semua ini. Apakah dikarenakan kesibukan organisasi saya selama ini? berdiskusi dengan siapa saya selama ini? atau mungkin ada yang mengguna-guna saya? Tapi apakah jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan itu berguna bagi saya saat ini. Saya rasa, tidak. Toh, jika pun tahu jawabannya saya tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Semua sudah terlanjur terjadi.

Sebab itu, saya masih belum wisuda di semester 10 ini. Sebab itu, saya tidak menikmati hari-hari bahagia saya. Sebab itu, saya jarang tersenyum. Sebab itu, komunikasi saya kurang. Sebab itu, kepribadian saya melemah. Sebab itu, saya sering melakukan kesia-siaan dan kesalahan yang berulang-ulang. Sebab itu, saya sering diremehkan orang lain. Dan bahkan sebab itu juga saya melewatkan kesempatan-kesempatan besar di hadapan saya, di depan mata saya sendiri. Meski semua kujelaskan kepada mereka, mereka belum tentu mengerti dan paham tentang apa yang ku suarakan dan ku jelaskan. Bahkan, segala cara sudah kucoba berkali-kali. Namun, hasilnya nihil. 

Aku harus bisa melewati semua ini, aku pasti bisa, aku harus berjuang sebisaku untuk menghilangkan, melawan dan menetralisir pikiran-pikiran yang menjelma didalam diriku sendiri. Dengan berbagai upaya akan kuusahakan demi berjuang untuk segala yang kupunya. Aku paham kondisi mereka dan tidak semua harus dipaksakan, aku harus bisa bersikap dewasa baik dalam kesendirian ataupun keramaian. Aku pasti bisa, pasti bisa, pasti bisa.

Mari usahakan apa yang penting untuk diusahakan, jauhkan pikiran-pikiran yang mengganggu, meracau dan hanya pandai menggonggong di siang bolong. Membuatmu lemah. Bersikap dewasalah, Mari menjadi dewasa adalah resolusiku tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Dewasa, dewasa, dewasa. Jangan sampai mereka bisa lebih dewasa daripada mu. Ini juga suara pikiran, sebaiknya dijauhkan dan jangan berlebihan. Buat dirimu sibuk dengan kebiasaan-kebiasaan positif yang membangun.

Comments

Popular posts from this blog

Ilmu Qira’at: Sab’ah & ‘Asyarah dalam Bacaan Al-Qur’an

🧐 Apa Itu Qira’at? Qira’at adalah berbagai cara membaca Al-Qur’an yang memiliki sanad mutawatir dari Rasulullah ﷺ. Bacaan ini diwariskan dari generasi ke generasi melalui para imam qira’at dan rawi (perawi) mereka . Ada dua kategori utama dalam qira’at: Qira’at Sab’ah (Tujuh Bacaan Utama) – Dikenal melalui tujuh imam qira’at. Qira’at ‘Asyarah (Sepuluh Bacaan Utama) – Tujuh imam qira’at ditambah tiga lainnya. Ilmu ini penting karena menjelaskan kenapa ada perbedaan bacaan dalam mushaf, tetapi tetap semuanya berasal dari wahyu yang sama. 🕌 Asal Usul Qira’at dalam Sejarah Islam Awalnya, Rasulullah ﷺ menerima wahyu dengan tujuh huruf (ahruf sab’ah) , yang berarti ada beberapa cara membaca ayat-ayat tertentu sesuai dialek suku-suku Arab. Setelah kodifikasi Mushaf Utsmani pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, perbedaan dialek tetap dilestarikan melalui qira’at . Para ulama qira’at meneliti dan mengklasifikasikan bacaan-bacaan ini, hingga akhirnya muncul tujuh imam qira’at ...
Teknis Pelaksanaan Tes Tahsin & Tahfizh untuk Calon Siswa/i SMP Teknis Pelaksanaan Tes Tahsin & Tahfizh untuk Calon Siswa/i SMP Panduan lengkap: persiapan, alur ujian, rubrik penilaian, contoh jadwal, administrasi, dan rekomendasi penempatan kelas tahfizh. Ruang Tes Tahsin & Tahfizh Penguji: Ustadz/Ustadzah Kompeten • Sesi Individual Calon Siswa Setoran Hafalan & Bacaan Surah/ayat acak dari daftar Teknis: setoran individual, rubrik tajwid & hafalan, penempatan kelas berdasarkan level. Ilustrasi: suasana tes tahsin dan tahfizh — penguji mendengarkan setoran secara individual untuk penilaian dan placement. 1. Tujuan & Prinsip Pelaksanaan Tes tahsin & tahfizh be...

Huruf Ṣād dengan Huruf Sīn Kecil di Atasnya dalam Al-Qur’an

  🧐 Apa Itu Huruf Ṣād dengan Sīn Kecil? Dalam beberapa mushaf Al-Qur’an, terutama mushaf yang mengikuti Rasm Utsmani , kita bisa menemukan huruf Ṣād (ص) yang memiliki huruf Sīn kecil (س) di atasnya. Simbol ini menunjukkan adanya perbedaan dalam qira’at (bacaan Al-Qur’an) , di mana beberapa qira’at membacanya dengan Ṣād (ص) sementara qira’at lain membacanya dengan Sīn (س) . 📜 Asal Usul Simbol Ṣād dengan Sīn Kecil Keberadaan simbol ini berkaitan dengan perbedaan qira’at mutawatir yang diwariskan dari Rasulullah ﷺ. Beberapa bacaan membaca kata tersebut dengan Ṣād , sementara yang lain membaca dengan Sīn , dan beberapa lainnya memperbolehkan kedua bacaan. Simbol ṣād dengan sīn kecil pertama kali diperkenalkan dalam penulisan mushaf untuk menjaga berbagai riwayat qira’at dalam satu teks . Mushaf Utsmani yang dikodifikasikan oleh Khalifah Utsman bin Affan menggunakan gaya penulisan yang memungkinkan perbedaan qira’at tanpa mengubah teksnya. 🌟 Contoh dalam Al-Qur’an Bebera...