Skip to main content

Ilmu Qira’at: Sab’ah & ‘Asyarah dalam Bacaan Al-Qur’an

🧐 Apa Itu Qira’at?

Qira’at adalah berbagai cara membaca Al-Qur’an yang memiliki sanad mutawatir dari Rasulullah ﷺ. Bacaan ini diwariskan dari generasi ke generasi melalui para imam qira’at dan rawi (perawi) mereka.

Ada dua kategori utama dalam qira’at:

  1. Qira’at Sab’ah (Tujuh Bacaan Utama) – Dikenal melalui tujuh imam qira’at.
  2. Qira’at ‘Asyarah (Sepuluh Bacaan Utama) – Tujuh imam qira’at ditambah tiga lainnya.

Ilmu ini penting karena menjelaskan kenapa ada perbedaan bacaan dalam mushaf, tetapi tetap semuanya berasal dari wahyu yang sama.


🕌 Asal Usul Qira’at dalam Sejarah Islam

Awalnya, Rasulullah ﷺ menerima wahyu dengan tujuh huruf (ahruf sab’ah), yang berarti ada beberapa cara membaca ayat-ayat tertentu sesuai dialek suku-suku Arab. Setelah kodifikasi Mushaf Utsmani pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, perbedaan dialek tetap dilestarikan melalui qira’at.

Para ulama qira’at meneliti dan mengklasifikasikan bacaan-bacaan ini, hingga akhirnya muncul tujuh imam qira’at yang paling populer (Qira’at Sab’ah), kemudian berkembang menjadi sepuluh imam qira’at (Qira’at ‘Asyarah).


🌟 Qira’at Sab’ah (Tujuh Imam Qira’at Utama)

Berikut adalah tujuh imam qira’at dan dua rawi yang meriwayatkan bacaan mereka:

No Imam Qira’at Rawi 1 Rawi 2
1 Nafi’ (Madinah) Warsh Qalun
2 Ibn Kathir (Makkah) Al-Bazzi Qunbul
3 Abu ‘Amr (Basrah) Ad-Duri As-Susi
4 Ibn ‘Amir (Syam/Damaskus) Hisham Ibn Zakwan
5 ‘Asim (Kufah) Hafs Syu’bah
6 Hamzah (Kufah) Khalaf Khallad
7 Al-Kisai (Kufah) Ad-Duri Abu Harits

Riwayat Hafs dari ‘Asim adalah yang paling umum digunakan di dunia Islam saat ini.


🌟 Qira’at ‘Asyarah (Sepuluh Imam Qira’at)

Qira’at Sab’ah ditambah tiga imam lain yang juga memiliki sanad kuat:

No Imam Qira’at Rawi 1 Rawi 2
8 Abu Ja’far (Madinah) Ibn Wardan Ibn Jammaz
9 Ya’qub (Basrah) Ruways Rawh
10 Khalaf (Baghdad, dari murid Hamzah) Ishaq Idris

➡ Qira’at ini disebut Qira’at ‘Asyarah Kubra dan lebih jarang digunakan dalam mushaf standar, tapi tetap dipelajari dalam dunia ilmu qira’at.


🤔 Contoh Perbedaan Bacaan dalam Qira’at

Berikut beberapa contoh ayat yang berbeda bacaannya dalam qira’at tertentu:

1️⃣ Contoh dalam Surah Al-Fatihah (1:4)

📖 مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

  • Riwayat Hafs (‘Asim): "Māliki yaumi d-dīn" (dengan alif)
  • Riwayat Warsh (Nafi’): "Maliki yaumi d-dīn" (tanpa alif)

💡 Perbedaan: Hafs menggunakan mālik (ملك) yang berarti "Raja/Pemilik", sementara Warsh menggunakan malik (ملك) yang berarti "Raja".


2️⃣ Contoh dalam Surah Al-Baqarah (2:2)

📖 ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

  • Riwayat Hafs (‘Asim): "lā rayba fīhi hudan lil-muttaqīn"
  • Riwayat Ibn Kathir: "lā rayba fīhi hudan lil-muttaqīn" (tanpa waqaf)

💡 Perbedaan: Riwayat Ibn Kathir tidak berhenti pada "fīhi", sedangkan Hafs membacanya dengan waqaf.


3️⃣ Contoh dalam Surah Yasin (36:9)

📖 فَأَغْشَيْنَٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

  • Riwayat Hafs (‘Asim): "fa-aghsyaināhum"
  • Riwayat Khalaf: "fa-aghshaynahum"

💡 Perbedaan: Khalaf menggunakan bentuk kata kerja yang sedikit berbeda dalam pengucapan, tapi maknanya tetap sama.


🎯 Cara Membaca Qira’at

Setiap qira’at punya aturan bacaannya masing-masing, termasuk hukum tajwid yang khas. Berikut beberapa poin penting dalam cara membaca qira’at:

Perbedaan Mad & Qashr – Misalnya, dalam riwayat Warsh, bacaan mad lebih panjang dibanding Hafs.
Perbedaan Idgham & Izhar – Beberapa qira’at menggunakan idgham mutamathil (melebur huruf yang sama), sementara yang lain membaca dengan jelas.
Perbedaan Harakat & Tasydid – Ada qira’at yang memberi tambahan harakat atau meringankan tasydid pada kata tertentu.
Perbedaan Waqaf & Ibtida’ – Beberapa qira’at punya aturan sendiri soal kapan harus berhenti atau melanjutkan bacaan.


🎤 Kesimpulan: Kenapa Perlu Belajar Qira’at?

Memahami Qira’at Sab’ah dan ‘Asyarah bukan hanya soal variasi bacaan, tapi juga soal melestarikan tradisi wahyu yang diwariskan sejak zaman Nabi ﷺ.

🌟 Kenapa penting?
✅ Mengetahui keunikan bacaan Al-Qur’an dari berbagai sanad.
✅ Memahami sejarah bagaimana wahyu dipelihara dari generasi ke generasi.
✅ Menghargai warisan Islam yang kaya dalam ilmu tajwid dan qira’at.

Jadi, buat yang mau mendalami tajwid lebih lanjut, yuk eksplor ilmu qira’at ini! 🚀📖

Comments

Popular posts from this blog

Teknis Pelaksanaan Tes Tahsin & Tahfizh untuk Calon Siswa/i SMP Teknis Pelaksanaan Tes Tahsin & Tahfizh untuk Calon Siswa/i SMP Panduan lengkap: persiapan, alur ujian, rubrik penilaian, contoh jadwal, administrasi, dan rekomendasi penempatan kelas tahfizh. Ruang Tes Tahsin & Tahfizh Penguji: Ustadz/Ustadzah Kompeten • Sesi Individual Calon Siswa Setoran Hafalan & Bacaan Surah/ayat acak dari daftar Teknis: setoran individual, rubrik tajwid & hafalan, penempatan kelas berdasarkan level. Ilustrasi: suasana tes tahsin dan tahfizh — penguji mendengarkan setoran secara individual untuk penilaian dan placement. 1. Tujuan & Prinsip Pelaksanaan Tes tahsin & tahfizh be...

Huruf Ṣād dengan Huruf Sīn Kecil di Atasnya dalam Al-Qur’an

  🧐 Apa Itu Huruf Ṣād dengan Sīn Kecil? Dalam beberapa mushaf Al-Qur’an, terutama mushaf yang mengikuti Rasm Utsmani , kita bisa menemukan huruf Ṣād (ص) yang memiliki huruf Sīn kecil (س) di atasnya. Simbol ini menunjukkan adanya perbedaan dalam qira’at (bacaan Al-Qur’an) , di mana beberapa qira’at membacanya dengan Ṣād (ص) sementara qira’at lain membacanya dengan Sīn (س) . 📜 Asal Usul Simbol Ṣād dengan Sīn Kecil Keberadaan simbol ini berkaitan dengan perbedaan qira’at mutawatir yang diwariskan dari Rasulullah ﷺ. Beberapa bacaan membaca kata tersebut dengan Ṣād , sementara yang lain membaca dengan Sīn , dan beberapa lainnya memperbolehkan kedua bacaan. Simbol ṣād dengan sīn kecil pertama kali diperkenalkan dalam penulisan mushaf untuk menjaga berbagai riwayat qira’at dalam satu teks . Mushaf Utsmani yang dikodifikasikan oleh Khalifah Utsman bin Affan menggunakan gaya penulisan yang memungkinkan perbedaan qira’at tanpa mengubah teksnya. 🌟 Contoh dalam Al-Qur’an Bebera...