Lebih baik saya mengira bahwa kita udah sama-sama tau apa itu Quarter Life Crisis. Apakah itu tentang pengertiannya, gejalanya, maupun apa akibat atau dampaknya bagi kehidupan kita. Singkatnya, quarter life crisis adalah satu titik tertentu dalam hidup manusia (bisa jadi di umur 20-24 tahun, ada juga yang bilang antara 18-30 tahun) yang membuat seseorang itu merasa khawatir, bingung, merasa bersalah, tersudutkan, dan lain-lain yang pada intinya dikarenakan faktor ekonomi, sosial atau bahkan pendidikan.
Coba kamu bayangkan, kamu di umur antara 20-25/26 tahun gitu, di masa-masa kamu awal berjuang, merintis atau bahkan memulai kehidupan yang sesungguhnya. Di masa perihnya keadaan, baru merasakan pahitnya berjuang atau bahkan baru saja menapaki jalan baru atau jati diri baru di dunia yang bahkan tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dan akan mencapai klimaks jika kita memiliki ekspektasi atau ego atau satu titik fokus tertentu yang ingin kita raih. Apakah itu membahagiakan orang terkasih, mendapatkan lingkungan yang positif. atau sekedar mendapatkan validasi tertentu.
Perih rasanya, tahu. Kita berperang dengan pikiran kita sendiri. Segala hal rasanya menjadi tidak meyakinkan, tidak menjanjikan, tidak pasti, tidak ada yang benar-benar jelas akan titik terang yang kita harapkan. Semua serasa kabur, dan hidup berjalan dengan semu. Tanpa ada tujuan yang jelas, pasti dan tidak terarah. Sudah pahit, kalut, takut, cemas, khawatir bercampuk aduk rasanya. Tak karuan dalam segala kondisi.
Dan lebih sakitnya lagi adalah jika kita mencari jalan keluar, dominannya adalah mencari hiburan. Dan luar biasanya, semua hiduran terasa semu. Dan terkadang justru menambah ketakutan kita akan ekspektasi kita sendiri. Perasaan dan pikiran justru semakin tersakiti dan ingin berteriak sekencang-kencangnya. Ujung-ujungnya, kita tidak menikmati hiburan apapun, justru hiburan itu menambah beban yang semakin menumpuk dan menumpuk. Apakah itu hiburan eduikasi, kah. Hiburan ringan, kah. Menonton film inspiratif, lah. Semua tidak menghibur.
Awalnya, kita tidak mengira bahwa kita mengalami gejala ini. Namun, lama kelamaan, kita pasti akan sadar dan tersadar bahwa kita sudah terjebak dan takut plus khawatir yang sering datang tiba-tiba. Apakah di situasi yang sulit, lapang atau bahkan santai sekalipun. Dan bahkan betapa naifnya, ketika kita pertama kali akan memulai kesibukan untuk menghilangkan overthinking yang ada, pikiran akan terus menyerang tiada henti bagaikan malware atau virus yang menyerang perangkat PC atau perangkat elektronik lainnya. Dan akan terus menjalar dan menjalar semakin dalam.
Diumur segini, lawan atau musuh kita bukan lagi orang lain atau hal tertentu, tak lain dan tak bukan siapa lagi kalau bukan pikiran kita sendiri. Termasuk organ dalam bagian diri kita dan bahkan adalah diri kita sendiri menjadi musuh kita. Betapa runyam dan sulitnya mendefinisikan itu.
Mari bangun kebiasaan positif dan selalu optimis, serta tetap membuka lebar sikap qanaah (lapang dada) akan berbagai hal yang akan terjadi walaupun tak selalu seperti yang kita inginkan. Mari mendewasa dengan proses kita masing-masing.

Comments
Post a Comment